Akusara Group Ubah Citra Remaja Masjid Melalui Festival

PENYANYI dan penulis lagu berkebangsaan Filipina-Amerika, Jeremy Passion, menutup rangkaian gelaran Ramadan Jazz Festival (RJF) yang mengusung tema ‘Love Unites All’ di Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (19/5) dini hari.

Acara tahunan yang diadakan Remaja Islam Cut Meutia (Ricma) ini juga sukses menggandeng deretan musisi Tanah Air. Berbeda dari 2018, Jeremy menjadi surprise lantaran satu-satunya artis internasional yang manggung.

Tata panggung yang apik, semakin sempurna dan mampu memukau para penonton dengan pencahayaan dan penataan suara yang luar biasa. Para penonton disuguhi permainan lampu sorot yang memukau, menjadikan konser itu bermandikan cahaya di suasana malam.

“Ini bagian dari dukungan kita atau CSR dalam bentuk kreativitas. Jadi kegiatan sosial, ibadah, dan menghibur. Kita juga mendukung seputar teknik produksi agar dakwah sosial lebih menyentuh dan memberikan pengalaman yang berbeda,” terang salah satu Founder Akusara Group, Andhika Mauludi, di lokasi.

Dalam kesempatan tersebut, ditambahkannya, mendukung lewat Akusara Production (Event Organizer), Akusara Prosound (Sound System), Akusara Prolight (Lighting), Akumoment (Photo Video), Akusewa (Online Rental Platform). Dalam mendirikan dan menjalani hal tersebut, Andhika dibantu Mohammad Soeharto dan Muhammad Pradana Indraputra.

“Total kita mendukung karena ingin membuat atau mengubah image (citra/penilaian) kalau remaja (masjid) juga bisa bekerja lebih profesional,” imbuhnya.

Dengan begitu, pola pikir para remaja dan orangtua, pun dapat bertransformasi. Masjid harus bisa menjadi tempat ‘bermain’ yang wajib dikunjungi, khususnya para remaja.

Sebab selama ini yang muncul, banyak remaja berpikiran masjid merupakan tempat yang tidak menarik, karena hanya ada salat, ngaji dan rutinitas kegiatan agama.

Dalam pandangannya, tantangan dakwah remaja masjid saat ini memang tak mudah. Melihat perilaku para pemuda Indonesia paling mutakhir. Apalagi, banyak yang sungkan datang ke masjid karena ada tempat nongkrong lain yang lebih gaul dan menyenangkan.

Untuk itu, remaja masjid di Cut Meutia, kini mengubah tampilan dan kemasan dakwah.

“Utamakan kreativitas, sesuaikan dengan perkembangan zaman. Pandangan masjid sebagai tempat yang ketinggalan zaman merupakan hal pertama yang harus direkonstruksi,” lanjut Andhika.

Pergelaran tersebut, rupanya rutin diadakan setiap tahunnya dan kini memasuki tahun kesembilan. Para musikus tampil dan berdakwah menggunakan musik jazz. Selain itu, selalu diikuti dengan kegiatan sosial, seperti donasi dengan kampanye atau segmentasi yang berbeda-beda tiap tahunnya.

Bila pada 2018 sedekah atau donasi yang terkumpul mencapai Rp250 juta, tahun ini ditargetkannya menyentuh angka Rp500 juta.

“Tiket masuknya itu diganti donasi yang kali ini ditujukan untuk difabel (Difable Action Indonesia) berupa alat bantu baca, dengar dan alat bantu gerak. Jadi pengunjung membayar sedekah dan mudah-mudahan ikhlas sehingga berkah. Kalau tahun sebelumnya, kita pernah bantu rumah baca di perbatasan, perbaikan sekolah dan rumah ibadah,” tuturnya.

Masih dikatakannya, percaya jika musik dan cinta itu bisa menyatukan semuanya. Dengan demikian, mampu menumbuhkan dan mengembalikan toleransi yang dirasa terkikis, utamnya usai Pilpres dan Pileg 2019.

RJF 2019 juga mengundang influencer, figur publik, tokoh politik, serta duta besar dari negara sahabat. Adapun musisi yang hadir, yakni Sujiwo Tejo membawakan lakon wayang, Saxx In The City, Dengarkan Dia, Rizky Febian, Ecoutes, Maliq & D’Essentials, serta Glenn Fredly di hari pertama atau Jumat (17/5).

Lalu di hari selanjutnya, ada Tosca, Chiki Fauzi, Andre Hehanussa, Element Reunion, Barsena Bestandi & Olivia Pardede, HIVI! Dan ditutup Jeremy Passion. (RO/OL-1)

Source: https://mediaindonesia.com/read/detail/236537-akusara-group-ubah-citra-remaja-masjid-lewat-festival

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *